Pandam Berbagi Rasa

Posting oleh : mama U | Pada : August 12th, 2008


Ass. Wr. Wb.

Bengi iki aku lagi buka2 file .. Ga sengaja jadi lihat2 Photo Ibuku tercinta yang sudah dua tahun ini meninggalkan kita semua …. Secara ngga sadar ada perasaaan rindu yang tiba2 muncul … dadi mbrebes mili aku rek …..

Dadi ingat … beberapa minggu yang lalu aku berkesempatan mulih nang jember rek …. Ga ngerti kenapa, koyoke perjalanan iku hanya sekedar perjalanan sing ga iso tak rasakno maknane ….. Mbiyen saat Ibu Bapak masih ada … sing jenenge perjalanan nang jember, bener2 dadi perjalanan penuh emosi …. sepanjang perjalanan iku sedhiluk2 HP bunyi … sing terdengar suara ibu menanyakan … Wis nyampe nang endi le ….. Ati2 yo le ….. Kata itu bener2 menyiratkan betapa pedulinya beliau …. betapa cintanya beliau ke anak2nya ….

Dadi nerawang …… sepeduli itukah aku pada beliau ???? ….. Kalo mau ditimbang2 …. bener2 ga ada artinya apa yang sudah tak lakukan
selama hidup beliau ….

Reeek …. pernah ngga awakmu ngrasakno seperti yg sedang aku rasakan saat ini ? Rasa bersalah, rumongso kedosan yg teramat sangat dalam situasi dan kondisi seperti ini. Yak opo yooo ?

Mengutip critane kancaku ….. aku dadi pingin sedikit berbagi …..

Sewaktu bayi, entah berapakali kita mengganggu tidur nyenyak ibu or bapak yg mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja keras mencari nafkah untk memenuhi kebutuhan kita ?.

Entah berapa kali kentut kita terhirup oleh hidungnya ibu ketika kita sedang mencret (sakit perut) bersamaan ibu sedang makan? ….. Ibu
juga tidak peduli ketika teman-temannya marah besar karena membatalkan acara pertemuan yg sangat penting, karena tiba-tiba anaknya sakit panas …. Begitu menginjak balita, kekhawatiran demi kekhawatiran tak pernah luput menghampiri mereka sejak kita mulai mudun lemah, belajar mbrangkang, trantanan, belajar melangkahkan kaki dsb.

Ketika mulai sekolah, betapa dag dig dug nya mereka saat pembagian rapor kenaikan kelas, betapa telatennya mereka ngrenah-ngrenahno
setelah naik kelas dan daftar ulang. Ketika seleksi penerimaan murid baru/ganti sekolah betapa cemas dan gelisahnya mereka, sampek dibelani poso senin-kemis ….. untk memberikan dukungan spiritual kepada anaknya yg ikut test. Betapa cemas dan paniknya mereka ketika pengumuman SIPENMARU diumumkan di koran Jawa Post saat itu.

Beranjak dewasa, betapa tabahnya bapak or ibu menerima pembangkangan demi pembangkangan yg kita lakukan …. Mereka hanya bisa mengelus dada, melas dan nelongso karena teman-teman di luar sono lebih berarti daripada mereka … Biasanya jarang sekali kita mau menyisakan waktu untk menyelami mimik expresi wajah mereka yg penuh kecemasan ketika kita pulang terlambat. Karena bapak or ibu selalu menyambut kita dg senyum manis …. Padahal faktanya mereka sangat khawatir, hatinya trenyuh, bibirnya tersenyum tetapi hatinya remuk, karena di luar sana banyak pengaruh negatif yg mungkin kita belum siap mental untk menerimanya.

Reeeek … pernahkah dirimu terbangun di tengah malam yg sunyi dan mendengarkan seperti yg pernah aku dengarkan pada saat itu? …..
Tangisan seorang ibu dlm doanya secara perlahan sambil meyebut nama kita, memohon agar kita terjaga dr segala bencana, memohon agar anaknya sukses. Tangisan dan doa itulah diantaranya yg menghantarkan kita menjadi seperti saat ini …….

Pernahkah kita tahu Bapak or Ibu terluka karena kelakuan kita yg kurang berkenan, kurang ajar, bejat dan kemudian mengiba kpd Tuhan agar kita sadar, agar kita eling, agar kita jangan dilaknat, agar Tuhan mau mengampuni kesalahan kita, agar kita tidak kuwalat dan selalu berdoa untk memberikan kehidupan terbaik buat kita?.

Reeekkk …. pernahkah kita berterimakasih ketika Bapak Ibu berbicara berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yg tertidur kelelahan ?
….. Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yg mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak punya cukup duit untuk membelikan mainan idaman kita yg harganya cukup mahal?…….

Pernahkah kita terharu ketika mereka membuat sendiri dan membawakan oleh-oleh makanan kesukaan kita dulu, yg mungkin kita sendiri sudah lupa, karena sudah obsolete dan tidak ada yg jual dipasar/toko ?

Pernahkah kita menyesali karena lupa meyertakan mereka di dalam berdoa?

Sungguh ker ….. betapa tidak sebandingnya cinta dan pengorbanan mereka dg balasan kasih sayang yg kita berikan. Setelah dewasa dan
merasa bisa “menghidupi” diri sendiri, kita masih bisa melenggang kangkung, ringan meninggalkan mereka, betapa tulusnya mereka ? mereka ikhlas asal kita bahagia ……

Lalu ……. apalah artinya kita sukses dlm belajar, karir dan usaha kalau ketika ortu sedang sakit kita tidak bisa memberikan dukungan moral setiap saat?

Ternyata kita masih sangat juuuaaauh belum cukup ber ………

Lalu…., bakti seperti apa yg sanggup kita persembahkan buat mereka?

Sayangi Ibu …… sayangi Bapak ……
Selagi Tuhan masih memberi kesempatan.
Atau ….. apabila kesempatan itu telah berlalu …… doa-doa kitalah yg mereka harapkan menemani diperistirahatan terakhir

Salam,

Pandam

Popularity: 1% [?]


Leave a Reply


Fatal error: Call to undefined function smilies_clickable() in /home2/aragornh/public_html/mama/wp-content/themes/jadepearl-16/comments.php on line 111